Wednesday, June 24, 2020

Sebuah Persilangan

Judul asli: Eine Kreuzung

 
Oleh: Sigit Susanto

Aku memiliki binatang piaraan pribadi, separuh kucing, separuh anak kambing, binatang itu warisan yang dimiliki ayah. Binatang tersebut berkembang pada masa hidupku. Awalnya binatang itu lebih seperti seekor anak kambing, daripada seekor kucing, akan tetapi sekarang perkembangannya seimbang. Kepala dan cakarnya dari kucing, sedang postur dan besarnya mirip anak kambing.

Kedua matanya sayu dan berkerlap-kerlip. Bulu rambutnya halus dan serasi, gerakannya lebih senang berjingkrak-jingkrak daripada merayap, pada waktu matahari bersinar ia di bilik jendela rebahan melingkar dan mendengkur, kalau di rerumputan ia berjalan dengan gagah dan sulit ditangkap, jika berhadapan dengan kucing, ia kabur, jika bertemu anak kambing ia bangkit, pada waktu rembulan malam tiba ia paling suka berada di rak atap, ia tak bisa berbunyi Meong, di depan tikus pun ia jijik, di dekat kandang ayam ia bisa bersembunyi berjam-jam, ia memang toh tak pernah memanfaatkan kesempatan untuk bunuh diri, aku dekati untuk memberi susu manis, ia mendapatkan susu terbaik, dengan tubuh panjangnya ia mengisap lewat gigi-gigi runcing binatang pemakan daging. Tentu saja binatang itu sebagai tontonan menghebohkan buat anak-anak.

Minggu pagi adalah jam-jam berkunjung, aku taruh binatang itu di pangkuanku, anak-anak tetangga berdiri mengelilingiku. Di situ banyak mencuat pertanyaan-pertanyaan hebat, tak seorang pun mampu menjawabnya. Aku gak pedulikan, aku merasa puas saja tanpa penjelasan selanjutnya, aku jawab semampunya. Kadang-kadang anak-anak membawa kucing, pernah sekali ada yang datang membawa dua ekor anak kambing, tetapi harapan anak-anak itu pupus karena binatangnya tak saling mengenal, binatang-binatang itu matanya saling melotot satu sama yang lain dengan tenang, padahal sebetulnya mereka itu juga makhluk ciptaan Tuhan.

Di pangkuanku binatang itu tak takut juga tak manja, merasa senang saja tergeletak di pangkuan. Ia kan termasuk tumbuh bersama dalam keluarga. Ia sudah krasan, bukan saja tak loyal, melainkan punya sebuah insting seekor binatang yang tajam, yang di bumi ini sudah punya saudara ipar yang tak terhitung jumlahnya, meskipun tak ada satu-satunya yang berhubungan darah, dan oleh sebab itu melindungi binatang ini di tempat kami sangat lah tepat. Kadang aku harus tertawa, kalau dia mengendus-ngendus aku, melilit di antara paha dan benar-benar tak mau pisah dariku. Tak cukup sepertinya, bahwa ia seekor anak kambing dan kucing, inginnya menjadi seekor anjing lagi. Pemikiran sejenis itu aku bayangkan secara serius. Binatang itu punya dualisme yang tak tenang, baik dari sisi kucing maupun anak kambing, yang memang keduanya saling berbeda jenis. Oleh karena itu bulu rambutnya sangat rapat. Mungkin binatang itu perlu pisau daging untuk membereskannya, tetapi aku harus menolaknya, karena binatang itu sebagai sebuah warisan.
***

No comments:

Post a Comment